Archive

Archive for August, 2007

Mobilku ditabrak, Aku dan adikku dianiaya

28 August 2007 Leave a comment

Mobilku ditabrak, Aku dan adikku dianiaya

[from milis to milis]

Berhati-hatilah bila melihat mobil Ford Everest biru, dengan nomer polisi B 2708 CF. Ciri lainnya terdapat plakat DPR-MPR RI didekat nomor polisi bagian depannya. Pengemudinya berkulit hitam, berbadan tegap, berusia sekitar 30an , berambut cepak agak plontos.

Adapun kronologis kejadian menurut adikku yang korban dan saksi setempat, Pada tanggal 18-08-07, sekitar jam 10.45 terjadi serempetan antara mobil Ford dan mobil Avanza yang dikendarai oleh adik saya di kompleks perumahan Taman Permata, Karawaci. Akibat dari kejadian itu, bemper kanan belakang (tepatnya diatas roda belakang sebelah kanan) mobilku copot.

Setelah tabrakan itu, pengemudi mobil ford biru itu turun dari mobil, langsung lari menghampiri mobil adik saya yang saat itu baru memberhentikan mobilnya. Pengemudi mobil ford itu langsung turun melayangkan tinjunya berkali-kali ke arah wajah adik saya. Setelah itu, dia langsung membuka pintu mobilku, mencabut kunci yang masih melekat pada kontaknya, mengambil dompet adik saya yang tergeletak di kursi penumpang sebelah kanan, dan pergi meninggalkan adik saya yang masih belumuran darah dan mobilnya di TKP begitu saja.

Dengan dibantu oleh tukang ojek dan satpam, adik saya diantar pulang kerumah. Pada saat itu saya yang sedang berada dirumah sendirian sangat panik melihat keadaannya yang babak belur dan berlumuran darah diseluruh mukanya. Saat itu, saya ingin segera mengantarkan adik saya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan pertama, saya baru teringat akan kunci mobil dan stnk yang masih ditahan oleh `jagoan bermobil biru itu’.

Indetitas `jagoan’ itu yang akhirnya diketahui bernama Ilham dari petugas keamanan setempat, sehigga saya, dengan diantar oleh 2 orang satpam itu ke rumahnya utk mengambil kembali kunci mobil guna mengantarkan adik saya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.

Apa yang terjadi kemudian, benar sangatlah diluar dugaan, Jagoan tersebut sudah menunggu kami didepan rumahnya dengan berkacak pinggang.

Saat itu, saya yang masih kebingungan segera menanyakan kunci mobil dan dompet yang berisikan STNK, itu akan tetapi langsung dibentak oleh JAGOAN itu, supaya saya jangan menanyakan kunci dan STNK mobil itu, atau saya juga akan dipukul seperti adik saya.

Sebagai seorang wanita, saya tetap bersikeras untuk meminta kembali kunci mobilnya, guna mengantarkan adik saya untuk mendapatkan pertolongan segera, karna darah semakin banyak mengucur dari luka adik saya. Bukan kunci mobil yang saya terima, akan tetapi tamparan dan tinju berkali-kali diarahkan JAGOAN itu ke muka saya, untung saja, ada 2 orang petugas satpam yang sangat sigap melindungi saya dari serangan brutal JAGOAN itu, sehingga hanya mata kanan saya yang memar dan pendarahan pada bola mata saya. Tidak puas karna saya berhasil diselamatkan oleh petugas satpam tersebut, JAGOAN tersebut mengancam akan MENGHABISI saya dan adik saya. ` Awas kamu, Saya TEMBAK kamu, saya matikan kamu berdua’.

Melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan buat saya dan adik saya, petugas satpam tersebut segera mengungsikan kami kakak beradik berdua. Kunci mobilku masih enggan dikembalikan, akan tetapi setelah
berulangkali petugas keamanan menasehati bahwa dia tidak punya hak menahan kunci mobil, dompet berserta STNK kami, baru dia mengembalikannya kepada pak satpam. Saat ini, kasus ini sudah saya laporkan ke kantor polisi setempat, untuk pengusutan selanjutnya, dengan nomor laporan polisi 683/K/VIII/2007/ SEK.CURUG.

Setau saya pernah dilakukan pemeriksaan dan penertiban terhadap mobil berplakat indetitas DPR MPR RI, bagaimana dengan JAGOAN ini???)

Apakah memang benar dia adalah anggota DPR MPR RI dengan plakat identitas yang melekat di mobilnya????
Apakah benar seseorang dapat seenaknya saja memukul orang????
Benarkah seorang pria dewasa menganiaya seorang wanita yang sedang panik melihat darahnya mengucur semikian deras dari luka adiknya???
Bisakah seenaknya seseorang menghabisi nyawa orang lain???
Apakah fungsi senjata itu??? Jikalau memang dia punya?? Apakah benar kegunaannya untuk mengancam dan menembak orang lain????

Masih adakah jaminan keselamatan dan perlindungan hukum di Negara Indonesia ini, disisi lain kita punya kewajiban untuk membayar pajak ke Negara???

Tolong disebarluaskan email ini, supaya cukup kami saja yang mengalami hal seperti ini, jangan ada lagi kasus kedua dan ketiga yang mengalami nasib seperti kami. Kami mohon doa dan dukungan dari teman-teman sekalian, semoga keadilan dapat benar-benar ditegakan di bumi Indonesia ini, sehingga tidak ada yang namanya main hakim sendiri.

Kejadian ini ada benar adanya…,rekan- rekan sekalian dapat mengeceknya langsung ke kantor polsek curug dengan nomor laporan yang sudah saya sebutkan didepan, atau dapat menghubungi email saya felyshia@hotmail. com

Terima kasih,

Felyshia@hotmail.com

Stop Dreaming Start Action lakukan perubahan menuju kebaikan sekarang juga

Advertisements
Categories: Info

Bakso Tahu Tulen (siomay) haram

24 August 2007 Leave a comment

Untuk yang tinggal dan suka di/ke bandung

From: Zulkarnaen Mansyur
Sent: Monday, August 13, 2007 11:13:43 PM
Bakso Tahu Tulen (siomay) haram

Selamat Pagi Semua,

Pada bulan Juni 2007 adik saya berniat untuk buka usaha makanan dikawasan perkantoran Sudirman. Dikarenakan makanan yang harus dijual tidak boleh ada yang sejenis dari yang sudah ada, maka dipilihlah bakso tahu (siomay) dari Bandung. Karena mertua saya kenal dengan pemiliknya,
maka harga dapat dikasih harga distributor. Pabrik bakso tahu tersebut ada dikawasan Panjunan Bandung. Omzet sudah sudah cukup besar karena Bakso tahu tulen punya puluhan pedagang keliling dan pedagang yang menetap disatu lokasi (di lengkong, kartikasari dll), sehingga banyak
orang yang sudah mencicipi “kelezatannya” .

Ketika Adik saya berkunjung ke Pabrik di kawasan Panjunan, pemilik pabrik Koh Cen Kang begitu biasa dipanggil mewanti-wanti adik saya bahwa bakso tahu kami dibuat dengan campuran daging Babi jadi tidak boleh dijual sembarangan.
Sontak kaget sekali adik saya, kenapa selama ini dia tidak tahu, sudah sekian lama kami, keluarga dan teman2 mengkonsumsi makanan yang mengandung barang haram tanpa ada yang kasih tahu.

Dengan marah adik saya bertanya pada pemiliknya, kenapa kok bakso tahu tulen dijual bebas, dengan santai dia jawab, selama ini saya sudah kasih penjelasan kepada pedagang keliling maupun pedagang yang menetap, tapi mereka saja yang tidak mau menjelaskan kepada pembeli, Masya Allah betapa teganya para pedagang bakso tahu tersebut, mereka menjual barang yang sudah tahu haram kepada umat muslim.

Pernah suatu kali juga ada calon pembeli menelpon ke Pa Ceng Kang untuk memesan 1000 pcs bakso tahu yang akan diambil pada hari Jumat, menurut Pak Cengkang dia sudah merasa tidak enak jangan2 orang muslim yang beli. Benar saja dugaannya ketika pembelinya datang, ternyata ibu2 berjilbab yang akan memberikan bakso tahu ini untuk acara pengajian.
Dikarenakan Pak Ceng kang tidak mau membuat kesalahan maka dia langsung terus terang kepada ibu tersebut, akhirnya kaget dan tidak jadi beli.

Mohon agar teman2 yang sudah tau informasi ini agar kasih tau lagi teman, keluarga dsb, untuk yang belom tau ya cukup sudah sampai disini jangan tergoda lagi sama “kelezatannya” .

salam,
Zulkarnain.M

———— ——— ——— —
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! Answers

“apa yg ada di depanmu dan apa yang ada di belakangmu adalah perkara kecil di banding apa yang ada dalam dirimu”

Categories: Uncategorized

Asal Usul Nama Indonesia

19 August 2007 Leave a comment

[source:milis smu47]
Oleh IRFAN ANSHORY

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka
nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai
*Nan-hai* (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa
India menamai kepulauan ini *
Dwipantara* (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari
kata Sansekerta *dwipa* (pulau) dan *antara* (luar, seberang). Kisah
Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan
pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke
*Suwarnadwipa* (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di
Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita *Jaza’ir al-Jawi* (Kepulauan
Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah *benzoe*, berasal dari
bahasa Arab *luban jawi*(kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab
memperoleh kemenyan dari batang pohon *Styrax sumatrana* yang dahulu
hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih
sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar
Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra,
Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar
Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa
Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya
terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang
terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”.
Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia
Tenggara dinamai “Hindia Belakang”.
Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia”
(*Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien*)
atau “Hindia Timur” *(Oost Indie, East Indies, Indes Orientales)* .
Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (*Maleische
Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais*).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang
digunakan adalah *Nederlandsch- Indie* (Hindia Belanda), sedangkan
pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah *To-Indo*
(Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal
dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik
untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu *Insulinde*, yang
artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin
*insula* berarti pulau). Tetapi rupanya nama *Insulinde* ini kurang
populer.
Bagi orang Bandung, *Insulinde* mungkin cuma dikenal sebagai nama
toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-
1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu
dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita
yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah
Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya.
Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman
Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu
diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas
Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan
Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit.
Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-
pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar,
seberang) sebagai lawan dari *Jawadwipa*( Pulau Jawa). Kita tentu
pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, *”Lamun huwus kalah
nusantara, isun amukti palapa” *(Jika telah kalah pulau-pulau
seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata
nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi
pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli
antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di
antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam
definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini
dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari
nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan
wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi
bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri
dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan,
*Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia* (JIAEA), yang
dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia
yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada
tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel
Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah
JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis
artikel *On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian
and Malay-Polynesian Nations*. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan
bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau
Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (*a distinctive name*),
sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan
India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: *Indunesia*atau
*Malayunesia* (*nesos* dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada
halaman 71 artikelnya itu tertulis: *… the inhabitants of the
Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively
Indunesians or Malayunesians. *

Earl sendiri menyatakan memilih nama *Malayunesia* (Kepulauan
Melayu) daripada *Indunesia* (Kepulauan Hindia), sebab *Malayunesia*
sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan *Indunesia* bisa juga
digunakan untuk Ceylon
(Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah
bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu
Earl memang menggunakan istilah *Malayunesia* dan tidak memakai
istilah *Indunesia*.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson
Logan menulis artikel *The Ethnology of the Indian Archipelago. *
Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi
kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu
panjang dan membingungkan.
Logan memungut nama *Indunesia* yang dibuang Earl, dan huruf u
digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah
istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak
pada halaman 254 dalam tulisan Logan: *Mr. Earl suggests the
ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of
Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which
is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian
Archipelago. * Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan
tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama
bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar
di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia”
dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah
ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang
bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku *Indonesien oder
die Inseln des Malayischen Archipel*sebanyak lima volume, yang
memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun
1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan
istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat
timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian.
Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam
*Encyclopedie van Nederlandsch- Indie*tahun 1918. Padahal Bastian
mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia”
adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke
negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan
nama *Indonesische
Pers-bureau. *

Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah
ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh
pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia”
akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang
memperjuangkan kemerdekaan!
Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap
pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa
*Handels
Hoogeschool* (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi
pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun
1908 dengan nama *Indische
Vereeniging* ) berubah nama menjadi *Indonesische Vereeniging* atau
Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama
menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka
yang akan datang (*de toekomstige vrije Indonesische staat*)
mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab
dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama
Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (*een politiek doel*),
karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa
depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (*
Indonesier*) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. “

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan *Indonesische
Studie Club*pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis
Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu
pada tahun 1925 *Jong Islamieten Bond* membentuk kepanduan
*Nationaal Indonesische Padvinderij* (Natipij) . Itulah tiga
organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”.
Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa
dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal
28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota *Volksraad* (Dewan
Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho
Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada
Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai
pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala
sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke
tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia
Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945,
atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku! ***

*Penulis,* *Direktur Pendidikan “Ganesha Operation”*

Categories: Uncategorized