Archive

Archive for February, 2007

Pak Sariban dari Bandung

16 February 2007 Leave a comment

SARIBAN (62) hanyalah pensiunan pegawai rumah sakit mata Cicendo, Bandung
dengan golongan terakhir sebagai penata muda III/A. Namun sejak 1999, dia memilih menjadi relawan kebersihan di Dinas Kebersihan. Dengan mengendarai sepeda ontel tua kesayangannya, waktunya pun habis untuk berkeliling ke setiap sudut Kota Kembang.

Usia tua tak menghalangi dia untuk tetap berktivitas. Karena setiap hari selalu berkeliling kota, tak gampang menemuinya. Namun saat paling mudah untuk dapat bertemu dengannya adalah ketika ada unjuk rasa di “tempat favorit” para pengunjuk rasa, yakni di Gedung Sate.

Mengapa harus di Gedung Sate? Sebab begitu aksi selesai, biasanya berserakan sampah. Saat itulah Sariban akan “muncul”.

Dengan pakaian warna kuning menyala, bapak empat anak itu akan langsung
sigap memunguti sampah-sampah yang ditinggalkan para pengunjuk rasa.

Sariban mengaku motivasinya melakukan pekerjaan itu hanya satu, yakni ingin Bandung bersih. Dia juga ingin mengajak warga Bandung menjaga kebersihan lingkungan. Karena itu di sepeda ontel yang setiap hari selalu menemaninya, banyak dijumpai tempelan poster berisi ajakan hidup sehat. Ajakan itu disampaikan pula lewat pengeras suara mini yang sengaja dipasang di sepedanya.

Kepeduliannya terhadap hidup sehat tak hanya dilakukan dengan cara memunguti sampah. Menjelang pelaksanaan Pemilu 2004 lalu, Sariban juga memperhatikan nasib pohon-pohon di sepanjang jalanan di Kota Bandung. Pemahamannya akan pohon sebenarnya sederhana.

“Pohon kan sumber air. Kalau tidak dipelihara, dilindungi, kan bisa mati dan dampaknya tidak baik buat kita ke depan,” tandas dia.

Menurut dia, pohon bukanlah media untuk memasang papan reklame. Dengan
menjadikannya sebagai tempat promosi, berarti manusia telah menyakitinya.
“Bagi saya itu tak bisa diterima,” tandasnya.

Rajin Mencabuti

Berangkat dari sikap itulah, Sariban kemudian rajin mencabuti paku dan tali yang menempel di pohon di sepanjang jalan yang dilewati. Selama penyisiran sekitar tahun itu, dia sudah berhasil mengumpulkan 13 karung berisi paku.

Saat mencabut, Sariban tak mempedulikan dari mana dan siapa yang memasang reklame. Asal menempel di pohon, tanpa kompromi, dia segera mencabutnya. Ribuan paku yang sudah berkarat sekarang disimpan di rumahnya. Keluarganya tidak mengeluh meski karung-karung itu menyita tempat.

Dia sendiri tidak berniat menjual paku-paku tersebut. Sebab dia takut,
paku-paku itu akan digunakan lagi untuk menyakiti pohon.
Dalam waktu dekat, ada seseorang yang akan memberinya uang untuk naik haji. Bisa saja Sariban menjual paku-paku itu untuk tambahan biaya naik haji. Namun ternyata dia memilih melego tiga sepeda antik ontel miliknya.

Bagaimana dengan aktivitas harian nanti? “Saya akan membeli sepeda yang agak murah. Saya akan tetap bersepeda, kalau memakai sepeda motor nanti malah mencemari lingkungan. Dikasih pun saya tak mau,” katanya.

[Source sebuah Blog lupa namanya]

Advertisements
Categories: Uncategorized

Pengharaman darah dan babi dalam Islam

15 February 2007 Leave a comment

Berikut ini tulisan mengenai pengharaman darah dan babi dalam Islam, diulas dari sudut pandang logika dan ilmu kesehatan. Semoga bermanfaat.

Bob: Tolong beritahu saya, mengapa seorang Muslim sangat mementingkan mengenai kata-kata “Halal” dan “Haram”; apa arti dari kata-kata tersebut?

Yunus: Apa-apa yang diperbolehkan diistilahkan sebagai Halal, dan apa-apa yang tak diperbolehkan diistilahkan sebagai Haram, dan Al-Qur’an lah yang menggambarkan perbedaan antara keduanya.

Bob: Dapatkah anda memberikan contoh?

Yunus: Ya, Islam telah melarang segala macam darah. Anda akan sependapat bahwa analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi dari uric acid (asam urat?), suatu senyawa kimia yang bisa berbahaya bagi kesehatan manusia.

Bob: Anda benar mengenai sifat beracun dari uric acid, dalam tubuh manusia, senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan dalam kenyataannya kita diberi tahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh, dikeluarkan dari dalam darah oleh Ginjal, dan dibuang keluar tubuh melalui air seni.

Yunus: Sekarang saya rasa anda akan menghargai metode prosedur khusus dalam penyembelihan hewan dalam Islam.

Bob: Apa maksud anda?

Yunus: Begini… seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari Yang Maha Kuasa, membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan urat-urat dan organ-organ lainnya utuh.

Bob: Oh begitu… Dan hal ini menyebabkan kematian hewan karena kehabisan darah dari tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya.

Yunus: Ya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau otak dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging. Hal tersebut mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga menjadikannya beracun; hanya pada masa kini lah, para ahli makanan baru menyadari akan hal ini.

Bob: Selanjutnya, selagi masih dalam topik makanan; Mengapa para Muslim melarang pengkonsumsian daging babi, atau ham, atau makanan lainnya yang terkait dengan babi?

Yunus: Sebenarnya, diluar dari larangan Al-Qur’an dalam pengkonsumsian babi, bacon; pada kenyataannya dalam Bible juga, pada Leviticus bab 11, ayat 8, mengenai babi, dikatakan, “Dari daging mereka (dari “swine”, nama lain buat “babi”) janganlah kalian makan, dan dari bangkai mereka, janganlah kalian sentuh; mereka itu kotor buatmu.”

Lebih lanjut lagi, apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di leher karena mereka tidak memiliki leher; sesuai dengan anatomi alamiahnya? Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan layak bagi konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan memiliki leher.

Namun diluar itu semua, saya yakin anda tahu betul mengenai efek-efek berbahaya dari komsumsi babi, dalam bentuk apapun, baik itu pork chops, ham, atau bacon.

Bob: Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar atas banyak macam penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam parasit dan penyakit berbahaya.

Yunus: Ya, dan diluar itu semua, sebagaimana kita membicarakan mengenai kandungan uric acid dalam darah, sangat penting untuk diperhatikan bahwa sistem biochemistry babi mengeluarkan hanya 2% dari seluruh kandungan uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya.

Mohon diteruskan kepada semua rekan Muslim dan Non-Muslim. Ini dapat menjawab sebagian pertanyaan mereka, khususnya kala non-Muslim bertanya mengapa umat Islam tidak boleh mengkonsumsi babi.

Categories: Uncategorized

Be My Anti Valentine – Fat

15 February 2007 Leave a comment

Categories: Uncategorized

Be My Anti Valentine – anti

15 February 2007 Leave a comment

Categories: Uncategorized

Be My Anti Valentine – consumerist

15 February 2007 Leave a comment

Categories: Uncategorized

Mbah Dauzan Farook

15 February 2007 Leave a comment

Keteladanan yang ada pada mbah Dauzan memberikan saya banyak sekali inspirasi. Memberikan pandangan bahwa kekayaan terbesar bukan dari sedikit atau banyaknya harta seseorang tetapi berapa banyak ilmu yang didapatnya dari membaca buku.
Terima Kasih mbah Dauzan Farook.

[foto from yogyes.com]

Categories: Uncategorized

Perpustakaan Sariwangi Bandung

15 February 2007 Leave a comment

[Source : Kompas]
Ayi Rohman tidak segan-segan menukar barang dagangannya dengan buku-buku bekas. Bahkan, untuk memenuhi hasrat mendirikan perpustakaan di desanya, ia sering membohongi istrinya karena menggunakan uang dagangan untuk membeli buku.

Dia lebih mementingkan mengurus perpustakaan,” keluh istrinya, Ny Neneng Rismayati. Berhari-hari ia lupa mencari nafkah karena keasyikan mengelola perpustakaan. Ayi bukanlah pengusaha atau petani berada di desanya. Rumah dan perabotannya sederhana saja. Ia juga bukan sarjana. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah teknik menengah negeri bagian bangunan di Bandung tahun 1989, ayah dua anak yang dilahirkan di Bandung, 11 Mei 1969, itu tidak memilih pekerjaan sesuai dengan bidang pendidikannya.

Sehari-hari ia menghidupi anak-istrinya dengan berjualan gorden keliling kampung sehingga ia dikenal sebagai ”Ayi Gorden”. Teman-teman sebayanya ada juga yang menjuluki ”Ayi Karbit” karena ketika kecil ia gemar membuat meriam bumbung bambu menggunakan bahan peledak karbit.

Yang membedakan Ayi dari pedagang gorden lainnya adalah ia memiliki minat baca tinggi. Dia melahap buku-buku yang menjadi minatnya. ”Setiap pagi saya selalu membaca walaupun hanya satu kalimat,” katanya.

Kegilaan membaca buku itulah yang mendorong Ayi mendirikan perpustakaan di desanya pada 20 April tahun lalu dan dinamakan Perpustakaan Sariwangi. Buku-buku ia peroleh dengan berbagai cara. Jika ke Bandung membeli bahan kain gorden, ia menyisihkan sebagian uang pembeli kain untuk dibelikan buku.

”Begitu keluar dari toko buku, label harga dilepas agar istri tidak tahu harga sebenarnya,” katanya. Agar tidak dimarahi, buku-buku yang harga sebenarnya Rp 50.000 misalnya, dikatakan dibeli dengan harga Rp 15.000.

Ayi juga memperoleh buku melalui sumbangan dari pemesan kain gorden, kadang secara barter. ”Saya tidak sayang menukar dengan kain gorden jika mengetahui pembeli kain gorden tersebut memiliki buku,” katanya.

Pemilik buku-buku tersebut biasanya tidak percaya begitu saja bahwa buku-buku tersebut untuk dibaca sendiri. Mungkin dan sangat boleh jadi karena Ayi Rohman hanya seorang tukang gorden keliling. Namun, setelah yakin bukan untuk dijual, akhirnya buku tersebut disumbangkan pemiliknya.

Mula-mula, buku-buku itu dijadikan koleksi taman bacaan di rumahnya yang sekaligus menjadi cikal bakal Perpustakaan Sariwangi. Sebagian besar pengunjungnya anak tetangga. ”Saya senang dan bahagia jika mereka ikut membaca,” katanya.

Waktu luang

Bangunan perpustakaan sebenarnya sangat tidak memadai. Bangunan semipermanen di sisi jalan raya Arjasari berukuran 2 x 3 meter itu sebelumnya kios pupuk milik kakaknya.

Ia membuat sendiri rak dengan bahan seadanya. ”Papan dan tripleks bekas ini pemberian pelanggan gorden yang sedang membangun rumah,” katanya.

Di bagian tengah ruang diletakkan meja berukuran sekitar 2 x 0,5 meter, persis meja makan di warung tegal yang hanya bisa menampung paling banyak 10 anak.

Untuk membiayai perpustakaannya, Ayi menetapkan iuran anggota Rp 2.000 per bulan. Tetapi, banyak yang tidak bersedia membayar. Akhirnya, untuk menghidupi perpustakaan Ayi harus menyisihkan dana dari biaya hidup atau hasil usahanya yang tidak seberapa.

Untuk menjaga perpustakaan, Ayi berusaha menyisihkan waktu luangnya. Jika berhalangan karena ada pesanan kain gorden atau mencari pemesan, tugasnya digantikan istri atau anak tertuanya.

Dengan koleksi yang sebagian besar buku dan majalah bekas, Sariwangi setiap hari dikunjungi rata-rata 20-30 orang yang sebagian besar anak-anak. Buku yang paling diminati adalah buku agama, disusul buku fiksi atau komik, ilmu terapan, dan paling rendah buku pelajaran.

Terancam tutup

Walaupun perpustakaan tersebut dikelola secara sederhana dan menempati ruangan serta fasilitas seadanya, Sariwangi telah meningkatkan minat baca masyarakat Desa Arjasari. April lalu perpustakaan ini terpilih sebagai Pengelola Perpustakaan Terbaik se-Kabupaten Bandung.

Ayi Rohman merasa bangga. Namun, dia sempat kelabakan untuk memenuhi undangan penyerahan hadiah dari Bupati Bandung karena tidak punya sepatu. Karena tak seorang pun tetangga dan saudara-saudaranya memiliki sepatu berukuran cocok untuk kakinya, akhirnya istrinya merelakan uang belanja Rp 100.000 untuk membeli sepatu.

”Kalau nanti memperoleh hadiah uang, pinjaman itu harus diganti,” kata istrinya. Namun, Bupati Bandung rupanya hanya memberi hadiah buku.

Impian pedagang gorden itu memang masih sangat jauh dari harapannya. Terutama jika dihubungkan dengan visinya, ”Melalui perpustakaan kita jadikan Desa Arjasari sebagai desa yang cerdas, sehat, dan mandiri”.

Dia hanya tercenung ketika teringat masalah yang tengah dihadapi. Ruang perpustakaan rencananya akan dijadikan kios bensin oleh pemiliknya.

”Saya tidak tahu harus pindah ke mana,” katanya bergumam.

Her Suganda Anggota Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat

Categories: Uncategorized