Islam dan Lingkungan
Belakangan sering tersiar berita bahwa bumi, dimana seluruh makhluk hidup tinggal telah mengalami kerusakan serius. Kerusakan yang disebabkan oleh banyak hal. Keadaan lingkungan secara keseluruhan di bumi yang dihuni oleh milyaran manusia ini sudah tidak seperti dahulu kala. Dahulu alam masih memperlihatkan keasriannya, tapi kini polusi ada dimana-mana. Lalu siapakah yang memiliki tanggung jawab besar atas segala kerusakan dimuka bumi ini?
Islam adalah agama yang damai mengajarkan umatnya untuk hidup sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Sunnah. Telah dijelaskan di dalam Al Quran sejak diturunkan kepada Sang Murabbi Muhammad Saw, bahwa Islam itu adalah agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin yaitu rahmat untuk alam semesta. Maka adalah kewajiban bagi setiap manusia, yang mengakui dirinya memeluk agama Islam, membawa islam untuk kesejahteraan seluruh alam bukan hanya manusia atau bahkan untuk segelintir orang saja.
Kesejahteraan disini adalah turut menjaga lingkungan hidup yang telah Allah berikan untuk kehidupan seluruh makhluk. Manusia sebagai salah satu makhluk yang mendiami bumi dan menjadi makhluk paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain, seharusnya memiliki pemikiran dan perhatian yang lebih baik kepada lingkungannya. Apa lagi dalam surah Faathir ayat 39 terlah dijelaskan: “Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi…..” Semakin mengokohkan kedudukan manusia dibumi.
Kemampuan menjadi khalifah atau pemimpin untuk seluruh makhluk dibumi bukanlah pekerjaan yang ringan. Karena manusia tidak tinggal sendirian dibumi. Ada banyak makhluk hidup lain yang dititipkan oleh Allah yang menjadi amanah. Amanah inilah yang menjadi tugas serius manusia untuk menjaganya. Bumi dan seluruh isinya. Tapi bagaimana makhluk bernama manusia ini bisa menjadi khalifah dan menjaga bumi, sedangkan manusia makhluk yang memiliki nafsu yang bisa juga berbuat kerusakan?
Dengan akal pemikiran manusia yang seharusnya lebih cerdas, seharusnya pula manusia bisa menjaga kelestarian alam ini. Tetapi pada kenyataannya seperti yang kita lihat hari ini, kerusakan lingkungan terjadi dimana-mana. Polusi yang merusak lingkungan, bahkan mengganggu kesehatan manusia itu sendiri sulit untuk ditanggulangi keberadaannya. Ini adalah bukti bahwa manusia juga yang secara langsung dan tidak langsung menjadi penyebab rusaknya bumi.
Lalu bagaimana Islam berbicara tentang lingkungan? Dijelaskan pada Al Quran : “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Rum 41)
Allah pun menyebutkan bahwa kerusakan di bumi baik darat dan laut itu terjadi karena ulah manusia itu sendiri. Bahkan disini disebutkan manusia, berarti bisa dikatakan pula bahwa sebahagian umat Islam masuk sebagai bagian manusia penyebab kerusakan. Manusia seperti apa? yang mereka berada pada jalan yang salah, tidak menuruti seluruh perintah Allah untuk menjadi khalifah yang baik untuk seluruh Alam.
Bukan berarti keseluruhan manusia dibumi tidak peduli kepada lingkungannya. Masih ada sebagian manusia yang peduli kepada keadaan lingkungannya. Dan umat Islam yang sejatinya menjadi khalifah pembawa kedamaian dan kesejahteraan kepada seluruh alam ini seharusnya menjadi umat yang paling peduli kepada keadaan lingkungan hidup. Kembali mempelajari Al Quran firman Allah tentang kehidupan di dunia. Kembali kejalan yang benar! Jadilah generasi rabbani yang menggunakan tangannya untuk membuat bumi lebih indah, bukan merusaknya.
Masih ada waktu untuk manusia untuk mengembalikan keadaan lingkungan menjadi lebih baik dari hari ini. Bahkan masih ada waktu untuk umat Islam menjadi pemimpin yang terbaik untuk membuat bumi tetap nyaman. Jika cinta Allah dan Rasulnya, serta ingin bumi yang kita huni ini tetap nyaman, saatnya melakukan perubahan. Karena amanah Allah adalah menjaganya!
Kita diajarkan untuk hidup serasi dengan alam sekitar kita, dengan sesama manusia dan dengan Allah SWT. Allah berfirman : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmatan lil’alamiin” (QS. 21 : 107).
Pandangan ini harusnya membuat manusia sadar akan kehidupannya bahwa manusia adalah bagian dari lingkungan tempat hidupnya. Manusia adalah bagian dari ekosistem. Bukan berada diluar ekosistem. Jika ekosistem rusak, maka manusia juga akan menderita. Semoga manusia pada umumnya dan umat Islam khususnya akan sadar terhadap hukum yang mengatur lingkungan hidup dari Allah SWT dan komitmen terhadap masalah-masalah lingkungan hidup.